Implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi di Malaysia, Dosen Universitas Islam Nusantara Al-Azhaar Dampingi UMKM Berdaya Saing Global

Implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi kembali diwujudkan Universitas Islam Nusantara Al-Azhaar Lubuklinggau melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) internasional yang diselenggarakan di INTEM, Kuala Lumpur, Malaysia. Kegiatan ini mempertemukan kalangan akademisi dengan pedagang kecil dan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) untuk membahas tantangan, peluang, serta strategi penguatan kapasitas usaha di tengah dinamika persaingan pasar global.
Kehadiran akademisi dalam forum tersebut menjadi bagian penting dari upaya menjembatani pengetahuan akademik dengan realitas yang dihadapi pelaku usaha. Ketua Program Studi Perbankan Syariah, Liliany Purnama Ratu, S.Kom., M.M turut berperan sebagai salah satu pemateri utama dengan memberikan perspektif akademik sekaligus pendekatan praktis yang relevan dengan kebutuhan UMKM.

“Kampus memiliki pengetahuan, sementara pelaku usaha memiliki pengalaman. Keduanya perlu duduk bersama agar pengetahuan dan pengalaman dapat saling memperkuat,” ujarnya.
Dalam kegiatan tersebut, Liliany Purnama Ratu, S.Kom., M.M menyampaikan materi bertajuk “Building Adaptive Capabilities for Global Market Competition”, yang menekankan pentingnya kemampuan adaptif sebagai salah satu fondasi keberlanjutan UMKM dalam menghadapi perubahan lingkungan bisnis.

Menurutnya, pelaku usaha perlu memiliki kapasitas untuk mengenali perubahan pasar, membaca kebutuhan konsumen, melakukan pembelajaran berkelanjutan, mengembangkan produk dan layanan, serta memanfaatkan teknologi secara strategis. Kemampuan tersebut menjadi semakin penting di tengah perubahan perilaku konsumen dan akselerasi transformasi digital yang telah mengubah cara pelaku usaha memasarkan produk, membangun relasi dengan pelanggan, dan mengembangkan pasar.
“Teknologi hanyalah alat. Yang menentukan adalah bagaimana kita menggunakannya secara tepat untuk menciptakan nilai dan menjawab kebutuhan pasar,” ungkapnya.

Lebih dari sekadar transfer pengetahuan, kegiatan PKM internasional ini merupakan bentuk nyata implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya dalam menghubungkan kapasitas akademik dengan kebutuhan masyarakat dan dunia usaha. Pendekatan tersebut menempatkan perguruan tinggi tidak hanya sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga sebagai mitra strategis dalam proses pemberdayaan dan peningkatan kapasitas masyarakat.

Konteks Kuala Lumpur memberikan relevansi tersendiri terhadap materi yang disampaikan. Sebagai lingkungan bisnis dengan konsumen yang memiliki latar belakang budaya dan preferensi yang beragam, pelaku UMKM dituntut memiliki tingkat sensitivitas pasar yang lebih tinggi. Kemampuan memahami karakteristik konsumen, mengidentifikasi perubahan preferensi, serta menyesuaikan produk dan strategi layanan menjadi faktor penting dalam mempertahankan daya saing.

“Di kota dengan karakter konsumen yang sangat beragam, pelaku usaha dituntut lebih adaptif dan peka terhadap perbedaan kebutuhan serta preferensi pasar,” jelasnya.
Selain penguatan strategi pemasaran dan pemanfaatan teknologi, peserta juga diajak memahami bahwa jejaring dan kolaborasi merupakan bagian integral dari kemampuan adaptif. Interaksi antarpelaku usaha, pertukaran pengalaman, pengembangan komunitas bisnis, serta perluasan koneksi lintas sektor dan negara dapat menjadi sumber pengetahuan sekaligus membuka peluang baru bagi pengembangan usaha.
“Usaha kecil yang berjalan sendiri akan lebih mudah menghadapi keterbatasan. Sebaliknya, jejaring dan kolaborasi dapat membuka akses terhadap informasi, pasar, pengetahuan, maupun peluang bisnis baru,” katanya.
Melalui pendekatan tersebut, PKM internasional Universitas Islam Nusantara Al-Azhaar Lubuklinggau tidak hanya diarahkan pada peningkatan pengetahuan peserta, tetapi juga pada pembentukan kapasitas adaptif, daya saing, dan kemandirian usaha. Pendampingan akademik diharapkan dapat membantu pelaku UMKM merespons perubahan pasar secara lebih sistematis serta mengembangkan strategi bisnis yang berorientasi pada keberlanjutan.

Ke depan, Liliany berharap kolaborasi antara Indonesia dan Malaysia dapat terus dikembangkan melalui program pendampingan, pertukaran pengetahuan, serta pembelajaran bersama yang melibatkan perguruan tinggi, komunitas usaha, dan pemangku kepentingan terkait.
“Kolaborasi lintas negara seperti ini memberikan perspektif baru yang tidak selalu dapat diperoleh hanya dari ruang kelas. Pengalaman langsung di lapangan menjadi bagian penting dari proses pembelajaran sekaligus penguatan kapasitas,” pungkasnya.
Menurut saya, versi ini lebih kuat karena narasinya tidak berhenti pada kegiatan “dosen memberikan materi kepada UMKM”, tetapi mengangkatnya sebagai model implementasi Tri Dharma yang menghubungkan akademisi, masyarakat, dunia usaha, dan konteks persaingan global. Dengan begitu, berita juga lebih mencerminkan positioning Universitas Islam Nusantara Al-Azhaar Lubuklinggau sebagai perguruan tinggi yang aktif dalam internasionalisasi, pemberdayaan UMKM, dan pengembangan kapasitas adaptif masyarakat.
up